Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berakhlak MuliaBerimanBertaqwaDongeng

Kasuari dan Arbei Merah

1885
×

Kasuari dan Arbei Merah

Share this article
Example 468x60

Seharian ini, Sari si kasuari, mondar-mandir di depan sarangnya. Pagi tadi, Sari bertemu Dera si cenderawasih. Itu pertama kalinya mereka berjumpa. Sari sangat kagum dengan warna bulu Dera yang cantik. Warna bulu itu kecokelatan pada tubuh dan sayapnya, berpadu dengan hijau zamrud pada kepalanya, serta keemasan pada ekor dengan sedikit putih di ujungnya. Sari ingin sekali memiliki bulu yang berwarna-warni seperti itu.

Melihat Sari yang tampak gelisah, Mimbi si burung mambruk menegurnya, “Sari, kulihat kamu mondar-mandir saja dari tadi. Apa yang sedang kamu pikirkan?

Example 300x600

Ah, sebenarnya aku ingin mengubah warna buluku, Mimbi.

Mimbi terkejut mendengar alasan Sari. “Lho, ada apa dengan bulumu, Sari?

Aku ingin buluku berwarna-warni seperti bulu Dera.

Tapi bulumu itu unik, lho, Sari. Itu ciri khasmu.

Ah, kamu tidak bisa memahami perasaanku karena kamu juga cantik, Mimbi!” tukas Sari dengan nada sedikit ketus sambil berlalu.

Sari menganggap Mimbi tidak akan pernah dapat memahami perasaannya karena Mimbi adalah seekor mambruk, burung merpati hutan yang cantik bermahkota dengan bulu berwarna seperti langit fajar yang biru keabu-abuan. Mimbi dan Dera sama cantiknya. Hal ini membuat Sari sedikit merasa iri hati. Sari berjalan menjauh sambil memikirkan cara mengubah warna bulunya. Di tengah jalan, ia melihat Bugi si bunglon yang sedang menaiki pohon arbei. Setibanya di atas, tubuh Bugi berubah menjadi warna oranye kemerahan.

Ah, aku punya ide!” seru Sari dalam hati.

Sari bergegas mengumpulkan arbei yang berwarna merah sebanyak mungkin, lalu memakannya dengan tergesa-gesa.

Sesaat kemudian, Sari memuntahkan sebagian arbei di paruhnya. “Ehmm, asam!” pekiknya.

Sari mengerjap-ngerjapkan matanya. Namun, ia berusaha memaksakan diri untuk terus memakan hampir semua arbei itu.

Tiba-tiba …

Auuw, aduh! Sakit!!

Sari meringis kesakitan. Kedua sayap Sari memeluk erat perutnya. Bugi yang mendengar teriakan tersebut lantas turun dan mendekati Sari.

Kamu kenapa, Sari?

Pe … perutku sakit, Bugi!

Bugi melihat sisa arbei merah yang dikumpulkan Sari berserakan di tanah. Bugi masih bertanya keheranan, “Kamu memakan buah arbei merah? Bukankah ini rasanya asam?

Sari mengangguk pelan.

Buah arbei merah ini belum matang sempurna, Sari. Rasanya asam sekali. Jika kamu makan dalam jumlah banyak, perutmu akan sakit dan itu tidak baik. Makanlah arbei yang berwarna kehitaman karena rasanya lebih manis,” jelas Bugi panjang lebar.

Benarkah, Bugi? Aku pikir jika memakan buah yang berwarna merah, maka buluku akan berubah warna menjadi merah. Seperti tubuhmu yang berubah warna tadi,” ungkap Sari lirih.

Hah! Mengubah warna bulu?” tanya Bugi semakin bingung dengan alasan Sari.

Kasuari itu mengangguk lesu karena masih menahan sakit perutnya.

Emm … Sari, tubuh kita diciptakan berbeda-beda dan istimewa. Tuhan memberikan kita satu keistimewaan yang berbeda dengan yang lainnya.

Apa maksudnya, Bugi?” tanya Sari tak mengerti.

Bugi tersenyum. “Tuhan memberiku keistimewaan berubah warna saat tubuhku terkena cahaya matahari yang hangat atau akibat perubahan suhu. Selain itu tergantung dari suasana hatiku juga. Nah, ini sudah jadi keistimewaan bunglon sepertiku. Maka dari itu, kasuari sepertimu pasti diberi keistimewaan lain yang berbeda denganku. Coba lihat tubuhmu yang tinggi dan besar. Paruh serta kakimu juga kuat. Di Papua ini, hanya kamu satu-satunya burung yang memiliki cakar tiga dan berkuku tajam seperti belati. Bukankah itu keren?” jelasnya.

Sari mendengar penuturan Bugi dengan saksama dan menyadari bahwa ucapan Bugi benar. Dirinya istimewa. Dera si cenderawasih memang berbulu indah. Mimbi bermahkota cantik. Namun, ia juga tak kalah keren karena memiliki tubuh yang kuat dan gagah.

Bugi, terima kasih atas ucapanmu. Kamu benar, Tuhan memberi keistimewaan yang berbeda-beda dan semuanya indah. Aku, kamu, Mimbi, Dera, dan yang lain memiliki keistimewaannya sendiri yang tak akan ditemukan pada hewan lainnya.

Iya, sama-sama, Sari. Kalau begitu, lekas pulang dan beristirahatlah. Matahari akan tenggelam dan hari mulai petang. Ingat, jangan makan sembarangan lagi! Sayangi tubuhmu yang istimewa itu agar tidak sakit lagi, ya!” pesan Bugi.

Baiklah, Bugi, akan kuingat nasihatmu. Aku pulang dulu, ya!” seru Sari bersungguh-sungguh.

Saat berjalan pulang, Sari teringat kembali ucapan Mimbi tentang warna bulunya yang khas. Ia menyesal telah bersikap acuh pada Mimbi. Padahal Mimbi bermaksud baik dengan ucapannya.

Besok pagi, aku harus menemui Mimbi untuk meminta maaf karena telah mengabaikannya,” gumam Sari.

Sari kembali ke sarangnya untuk beristirahat. Rasa sakit di perutnya berangsur-angsur berkurang. Hatinya tidak lagi gelisah dengan warna bulunya yang hitam legam. Kini, ia tahu letak keistimewaanya. Ia berjanji akan selalu menyayangi dirinya sendiri dan tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan seperti tadi. Malam ini, Sari tertidur sambil tersenyum menyelami indahnya mimpi.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *