Sore itu, Luki sedang menikmati secangkir teh dan sepiring kue wortel di rumahnya yang hangat. Luki melepas lelah, setelah memanen wortel di kebunnya. Hasil panen kali ini cukup bagus. Dua karung wortel, kini aman dalam lemari penyimpanannya.
“Sepertinya, sebentar lagi turun hujan,” gumam Luki.
Sejak siang, mendung memang sudah menggantung di langit Desa Kelinci. Suara guntur juga beberapa kali terdengar.
Tak! Tak Tak!
Tetesan air hujan akhirnya jatuh mengenai atap rumah Luki. Semakin lama, hujan semakin lebat.
Luki melongok keluar jendela. Air hujan tampak mengalir dengan deras di jalanan. Untung Luki tinggal di bukit. Kalau tidak, mungkin rumahnya bisa kebanjiran.
“Semoga tidak terjadi banjir,” harap Luki.
Hujan masih turun sepanjang malam. Luki tertidur pulas tanpa tahu peristiwa besar telah terjadi di Desa Kelinci.
“Luki! Luki!”
Luki terbangun karena mendengar pintu rumahnya digedor. Ia segera turun dari tempat tidur dan membuka pintu.
“Ada apa?” tanya Luki sambil mengucek matanya.
“Desa Kelinci kebanjiran! Kepala desa meminta semua warga berkumpul di rumahnya,” ujar Lilo, tetangga yang menggedor rumahnya.
Luki bergegas keluar. Ia masih memakai piyama tidurnya. Ternyata yang ia khawatirkan benar-benar terjadi.
Luki terperangah melihat rumah-rumah di bawah bukit tergenang air seperti danau. Rumah-rumah warga desa hanya tampak cerobong asapnya.
Rumah kepala desa berada di kaki bukit. Rumah itu aman dari banjir. Warga Desa Kelinci yang rumahnya kebanjiran, berada di sana.
Untungnya, semua warga selamat. Mereka bisa menyelamatkan diri dengan cepat.
Kepala desa memutuskan untuk membangun rumah sementara untuk penampungan warga. Mereka akan mendirikannya di kebun kepala desa.
Tak hanya itu, kepala desa juga meminta semua warga Desa Kelinci mengumpulkan persediaan wortelnya.
“Kumpulkan semua wortel yang kalian punya! Nanti akan kita bagi sama rata. Kita harus bisa bertahan sampai musim panen yang akan datang,” kata kepala desa.
Lilo dan Jojo bertugas untuk mengumpulkan wortel-wortel itu. Warga kelinci yang rumahnya tidak kebanjiran kembali pulang untuk menyiapkan wortel mereka. Luki juga ikut pulang.
Sesampainya di rumah, Luki membuka lemari penyimpanan.
Ia memandang dua karung wortelnya dengan perasaan tidak rela. Bagaimanapun wortel-wortel itu adalah hasil jerih payahnya. Apakah ia harus memberikan semuanya?
Luki mendengar pintunya diketuk. Gilirannya tiba. Luki akhirnya mengeluarkan sekarung wortel. Sekarung lainnya, ia biarkan di dalam lemari. Luki khawatir akan kehabisan wortel sebelum bisa menanamnya lagi.
“Ini semua wortel milikku,” katanya kepada Lilo. Suaranya sedikit bergetar karena gugup.
“Wah, banyak juga panenmu! Terima kasih, ya,” ucap Jojo sambil membantu Lilo mengangkat karung wortel ke gerobak. Luki hanya tersenyum.
Setelah semua wortel berhasil dikumpulkan dan dihitung, kepala desa memanggil warga Desa Kelinci. Warga desa datang sambil membawa keranjang seperti yang diminta oleh kepala desa. Anak-anak kelinci juga ikut datang. Semua mengantre dengan tertib. Luki juga ikut mengantre.
“Lihat, jumlahnya tidak seberapa. Bagaimana mungkin cukup untukku sampai musim panen berikutnya?” gumam Luki begitu tiba di rumah. Luki merasa menyimpan sebagian wortelnya merupakan keputusan yang tepat.
Meskipun memiliki sekarung wortel di lemari penyimpanan, Luki tetap memasak wortelnya sedikit demi sedikit. Ia mau menghabiskan wortel pemberian kepala desa terlebih dahulu.Setelah seminggu berlalu, banjir pun surut. Hujan mulai jarang turun. Warga Desa Kelinci pulang untuk memeriksa rumahnya. Sayangnya, rumah-rumah rusak parah. Banyak yang harus diperbaiki. Warga desa yang tinggal di bukit ikut turun tangan.
Luki pun tak ketinggalan. Ia membantu warga desa bersih-bersih. Sore harinya, Luki baru pulang ke rumah.
“Aduh, aku lapar! Enaknya masak apa, ya?” ucap Luki sambil memeriksa keranjang wortelnya.
“Ah, tinggal satu! Kecil lagi. Untung masih ada wortel di lemari,” kata Luki.
Luki hendak mengambil wortel yang disimpan dari dalam lemari. Namun, ketika membuka lemari, Luki mencium bau tak sedap.
“Bau busuk apa ini?” gerutunya.
Luki tidak mengira kalau bau itu berasal dari karung wortelnya. Karung wortel Luki basah. Ketika dikeluarkan, sebagian wortel membusuk dan ditumbuhi jamur.
“Hah! Kenapa bisa begini?” seru Luki panik.
Luki baru menyadari kalau atap di atas lemarinya bocor. Air hujan terus menetes dan merembes ke dalam lemari. Itulah yang menyebabkan karung basah dan wortel di dalamnya menjadi busuk.
Luki ingin menangis melihat wortel-wortelnya. Wortel busuk itu tidak bisa diapa- apakan lagi selain dibuang.
“Sayang sekali. Andaikan aku jujur memberikan semuanya, pasti wortel-wortel ini bisa lebih berguna,” sesalnya.
Namun, menyesal saja tentu juga tidak akan bisa mengembalikan wortel- wortelnya. Sekarang, dada Luki terasa sesak karena dipenuhi rasa bersalah.
Untungnya, tidak semua wortel membusuk. Wortel yang tidak terkena rembesan air hujan masih bisa dimakan. Luki memisahkan wortel-wortel itu.
Sore itu, Luki mengambil sedikit wortel dan menyimpannya dalam keranjang. Ia juga memasak sup wortel untuk makan malam. Luki sudah menyiapkan rencana untuk besok pagi.Keesokan harinya, menjelang makan siang, Lilo dan Jojo mencari Luki ke rumahnya.
Mereka heran karena Luki tidak kelihatan membantu memperbaiki rumah warga desa. Mereka mengira Luki kelelahan dan sakit.
“Wah, kalian datang tepat waktu! Ayo, bantu aku membawa ini!” pinta Luki.
Lilo dan Jojo terheran-heran melihat sepanci besar bubur wortel manis.
“Mau dibawa ke mana?” tanya Lilo.
“Dibawa ke rumah kepala desa. Kita makan bersama. Kurasa bubur ini cukup banyak untuk makan siang warga desa,” ucap Luki.
Sebelum pergi, Luki mengaku kepada Lilo dan Jojo tentang wortelnya. Lilo dan Jojo bersedia memaafkan Luki. Menurut mereka, warga juga pasti bersedia memaafkan karena Luki sudah sadar dan berusaha menebus kesalahannya.
Lilo dan Jojo dengan sigap menyiapkan gerobak untuk mengangkut bubur buatan Luki. Tak ada warga desa yang menolak bubur wortel manis itu. Mereka menyantapnya dengan lahap dan gembira. Luki ikut senang melihatnya. Hatinya pun merasa lega.
Rumah-rumah warga akhirnya selesai diperbaiki.
Mereka bersyukur bisa kembali ke rumah masing-masing.
“Luki!” terdengar panggilan dari luar.
Rupanya Bu Titi datang membawakan kue wortel. Bu Titi ingin berterima kasih karena Luki mengajak keluarganya makan bubur manis bersama.
Tak hanya Bu Titi, warga desa bergantian datang ke rumah Luki untuk mengantar makanan. Luki menerimanya dengan senang dan mata berkaca-kaca.
Ternyata kegembiraan saling berbagi rasanya semanis bubur wortel. Luki akan mengingat kebaikan itu di dalam hatinya. Dia berharap suatu hari nanti bisa membalasnya.









