Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berakhlak MuliaBerimanBertaqwaDongeng

Pohon Kesayangan Momo

1919
×

Pohon Kesayangan Momo

Share this article
Example 468x60

Momo si monyet punya pohon kesayangan. Pohon itu berada di tengah hutan. Setiap pagi, Momo selalu pergi ke sana. Dia akan bergelantungan, bermain, atau sekadar bermalas-malasan. Pokoknya di pohon itu Momo tidak pernah bosan.

Di sepanjang perjalanan menuju pohon kesayangan, Momo selalu bernyanyi riang, “Lalala … aku mau ke pohonku.”

Example 300x600

Momo sesekali menyapa teman-temannya. Momo memang monyet yang ramah.

“Halo, Caca! Ayo, ikut ke pohonku!” ajak Momo kepada Caca si ular sanca kembang, temannya yang sedang meliuk-liuk di pohon kelapa.

Caca mendesis. “Aku tidak suka pohonmu,” jawabnya.

Momo berkacak pinggang. Bagaimana bisa? Pohonnya punya banyak ranting. Pohon kesayangan Momo juga penuh daun-daun rimbun. Tidak ada pohon seindah pohon Momo.

“Itu karena pohonmu wangi. Aku tidak suka berbau harum atau wewangian. ”Bibir Momo tersenyum. Itulah yang ia sukai dari pohonnya. Baunya wangi, seperti aroma masakan manusia. Apalagi kalau Momo menekan batang pohon kesayangannya dengan ujung kuku. Wah, aroma harum bertambah semerbak!

“Pohon cengkehmu menakutkan bagiku,” Caca melengos. Ia menggeliat ke atas, mungkin akan menuju pucuk pohon kelapa.

“Tapi aku sangat suka pohonku!” Momo tertawa meninggalkan Caca.

Momo melanjutkan perjalanan. Dia bertemu dengan Riri si Nuri Maluku yang berwarna semerah darah.

“Halo, Riri! Kamu sedang apa?”

Riri menoleh. Ia sedang mengunyah biji-bijian, kemudian berteriak “Jangan ke pohonmu, Momo!”

Momo berhenti melangkah. “Ada apa dengan pohonku?” tanyanya. “Pohonmu terpilih dalam tradisi sasi,” jawab Riri.

“Tradisi sasi?” Momo kembali bertanya.

Riri mengangguk. Ia mengepakkan sayap dan bersiap terbang. “Kalau tidak percaya, biar aku tunjukkan. Aku tadi tidak sengaja mendengar orang-orang Sabuai berbicara tentang pohon cengkeh di tengah hutan.”

Momo langsung berlari dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya dengan cepat. Tangannya sempat tergores ranting pohon, tetapi Momo tidak peduli. Momo hanya ingin segera sampai di pohon cengkeh kesayangannya.

Ternyata, benar yang Riri katakan. Orang-orang Sabuai telah berkumpul di dekat pohon kesayangannya. Mereka mengenakan karanunu yang disebut juga dengan kain berang, yaitu ikat kepala berwarna merah.

Seorang manusia yang tubuhnya sedikit bungkuk, menyilangkan kaki di dekat pohon kesayangan Momo. Dia membakar api yang berasal dari damar.

“Saya berdoa kepada Upu Lanite dan tete-nene moyang kami agar menjaga hutan kami dan juga pohon-pohon ini,” ucapnya. Upu Lanite berarti Tuhan, sementara tete-nene moyang berarti leluhur atau kakek-nenek pendahulu kita.

Setelah itu, manusia-manusia yang semuanya terdiri dari laki-laki mulai menancapkan dahan kayu di sekitar pohon kesayangan Momo. Mereka juga membalutkan kain berang pada dahan kayu tersebut. Momo ingin menangis. Ia tidak akan bisa lagi bermain, bergelantungan, dan bermalas-malasan di sana.

“Kenapa dari seluruh pohon di hutan ini, pohon kesayanganku yang harus terpilih dalam tradisi sasi?” tanya Momo.

“Itu karena pohon cengkehmu paling besar di sini,” jawab Riri. “Pohon itu harus dijaga dan dilestarikan.”

“Tapi, kan, aku tidak merusak pohonnya. Kalaupun ada ranting yang patah akibat aku suka bergelantungan, jumlahnya sangat sedikit,” kata Momo.

“Sudahlah, Momo. Ayo, kita cari pohon lain saja!” hibur Riri.

“Tidak ada yang seperti pohon kesayanganku. Aku sudah sangat sayang dengan pohon cengkeh itu. Aku tidak mau berganti pohon!” seru Momo.

“Ini hutan, Momo. Seluruh pohon tidak benar-benar milik kita,” Riri terbang, lalu hinggap lebih dekat dengan Momo.

Momo tidak menjawab. Ia mengusap air matanya. Monyet kecil itu sangat sedih. Itu semua karena tradisi sasi, tradisi yang tidak membolehkan mengambil apapun dari pohon kesayangannya itu untuk menjaga kelestariannya.

Kalau sampai melanggar, ia akan dihukum.

Bagi hewan-hewan yang mendiami hutan ini, mereka juga harus mematuhi hukum tersebut. Apabila melanggar, mereka tidak akan dihukum oleh manusia, tapi akan dihukum oleh Yang Maha Kuasa.

Pernah suatu kali, ada hewan yang melanggar, lalu hewan itu sakit perut. Ada pula yang menjadi demam atau terkena penyakit lainnya. Sakitnya pun bisa sangat lama. Momo tidak mau sakit.

Ia masih suka bergelantungan, bermain, dan bermalas-malasan walaupun bukan di pohon kesayangannya.

“Cuma enam bulan, Momo. Atau paling lama dua tahun,” Riri membesarkan hati Momo.

Momo menyeka air matanya. “Baiklah. Aku akan datang setelah masa tradisi sasi selesai. Sampai jumpa lagi pohon kesayanganku,” ucapnya.

Dengan langkah gontai, Momo berjalan menjauhi pohon kesayangannya. Jauh dalam hatinya, Momo sangat sedih. Namun, ia tidak bisa dan tidak boleh melanggar hukum adat.

Mungkin dengan begitu, Momo bisa menjaga pohon kesayangannya. Kelak ketika waktunya tiba, pohon itu akan jauh lebih besar dan lebih kuat.

“Ayo, kita mencari pohon lain untuk bermain, Momo! Tersenyumlah!” Riri menyemangati Momo.

“Tidak ada yang akan bisa menggantikan pohonku!” Momo mulai menaiki sebuah pohon secara acak. Ia bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya.

“Aku akan menunggu saatnya tiba, Pohon Kesayanganku!” teriaknya. “Aku akan datang lagi kepadamu!”

Itulah kisah Momo si monyet kecil dalam menjaga tradisi sasi, sekalipun tradisi itu mengikat pohon kesayangannya. Untuk sementara waktu,Momo tidak bisa bergelantungan, bermain, dan bermalas-malasan di pohon kesayangannya. Momo tahu aturan harus dijaga supaya alam tetap indah dan terawat.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *